Minggu, 25 Desember 2011

Setrategi Pengajaran Bahasa Arab pada Anak Usia Dini

0 komentar

بسم الله الرحمن الرحيم

 Pendahuluan
            Menguasai Bahasa Arab merupakan kebutuhan yang sangat primer bagi umat Islam. Hal ini karena sumber ajaran Islam secara orisinil diturunkan dalam Bahasa Arab. Tanpa mempelajari Bahasa Arab, mustahil hukum Islam akan dapat diketahui dan bahkan ditegakkan, karena asa dari usulul fiqh adalah bahasa arab.
             Kaitannya dengan mempelajari bahasa, sebagaimana yang telah kita ketahui, hal ini tidaklah bisa terlepas dari metode/cara, strategi, dan seni mengajar. Dalam tulisan ini, kita akan membahas metode, strategi, dan seni mengajar bahasa Arab bagi anak-anak. Usia anak-anak adalah usia yang paling mudah untuk mempelajari bahasa, dan penyampaian materi pada anak-anak tentulah berbeda dengan cara penyampaiannya untuk orang dewasa.

Metode Pengajaran Bahasa Arab
            Secara pedagogik, metode adalah rencana menyeluruh yang berkenaan dengan penyajian materi pembelajaran (temasuk pembelajaran bahasa) secara teratur, dan tidak ada satu bagian pun yang bertentangan dengan yang lain.[1] Dalam mempelajar bahasa, cara yang paling efektif adalah dengan menjadikannya kebiasaan. Sementara itu, pembiasaan akan efektif jika dilakukan sejak usia dini. Pembahasan rencana ini dikhususkan pada usia anak-anak karena merupakan satu tahapan usia yang penuh dengan perkembangan pesat, meliputi perkembangan kecerdasan, keterampilan, kecakapan, dan lainnya.
            Bahasa merupakan kebiasaan, begitu teori bahasa yang sering dikenal karena usia anak-anak merupakan usia pembentukan kepribadian, pengembangan bakat, termasuk keterampilan bahasa. Dalam pembentukan ketiga aspek tersebut, anak tidak dapat dibiarkan berkembang sendiri. Hal ini karena anak belum mempunyai nalar yang sempurna, lingkunganlah yang mempunyai pengaruh besar.
            Seorang anak Jawa yang berada di lingkungan orang Sunda sejak kecil tentu akan menguasai bahasa Sunda. Sebaliknya, anak kecil Sunda yang selalu di lingkungan orang Jawa, yang dikuasainya adalah bahasa Jawa. Nah, demikian pula pada bahasa Arab. Anak akan lebih cepat mempelajarinya jika ada pembiasaan dikesehariannya. Akan tetapi, bukan berarti kalau ingin belajar bahasa harus pergi ke tempat di mana bahasa itu berasal sebab lingkungan bisa diciptakan, yakni dengan kebiasaan itu tadi. Untuk membiasakan kita bisa menciptakan dalam lingkup kecil, misalnya dalam keluarga.  Bukan hanya pada usia anak, pada usia dewasa pun bisa diupayakan pembiasaan.
            Adapun tahap-tahap perkembangan yang dilalui anak-anak tentunya berbeda-beda, pada prinsipnya ada dua, sebagai berikut.

1. Tahap Sensorik Motorik (0 - 2 tahun)
            Pada tahap ini anak mengalami ketidaktepatan objek. Mereka masih sesuka hati dalam menyebutkan sesuatu yang mereka kehendaki. Dalam usia ini penting juga agar mereka dikenalkan sedikit demi sedikit tentang Bahasa Arab lewat bahasa ibu atau ayahnya, karena merekalah yang paling dekat dengan anak.

2. Tahap Pra Operasional (2 - 7 tahun)
            Dalam usia ini anak menggunakan fungsi simbol yang lebih besar. Perkembangan bahasa bertambah secara dramatis dengan permainan imajinasi. Dalam masa ini, sang Ibu atau ayah  selaku orang terdekat dengan anak harus mampu mengenalkan secara lebih detail tentang bahasa Arab, misal menyebut ibunya dengan ummi, menyebut ayahnya dengan abi atau yang lain lebih daripada itu.[2] Bukan hanya orang tuanya saja, tetapi lingkungan juga harus mendukung, apalagi jika anak tersebut sudah masuk pada usia sekolah. Seorang guru diharuskan paham tentang strategi pembelajaran pada anak diusia dini. Di bawah ini saya inggin memaparkan strategi yang biasa digunakan untuk mengajarkan anak-anak pada usia dini.

Strategi Bermain
            Dalam strategi ini ada lima kriteria yaitu:
a)      motivasi intrinsik
    yakni memotivasi anak dengan cara belajar sambil bermain; dengan cara ini muncul keinginan belajar dari dalam diri anak, serta anak melakukannya dengan senang;
 b) bermain adalah hal yang menyenangkan;
 c) model bermain yang dilakukan tidak dikerjakan dengan sambil-lalu karena tingkah-laku itu tidak mengikuti pola/ aturan yang sebenarnya, melainkan lebih bersifat pura-pura;
 d) cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya sebab anak lebih tertarik pada tingkah-laku itu sendiri daripada hasil yang akan diperoleh;
 e) kelenturan, yakni ditunjukkan baik dalam bentuk maupun dalam hubungan, dan berlaku dalam setiap situasi.
            Dengan bermain, kita dapat menyisipkan sedikit demi sedikit materi Bahasa Arab. Dengan bermain, anak akan mendengarkan aneka bunyi, mengucapkan sukukata maupun kosakata. Metode seperti ini dinilai efektif sebab bermain adalah kebutuhan sekaligus cermin perkembangan anak. [3]
            Macam-macam permainan menurut Zulkifli L. dalam bukunya Psikologi Perkembangan sebagai berikut : a) Permainan Fungsi, yang diutamakan adalah geraknya; b) Bermain Konstruktif, permainan ini yang diutamakan adalah hasilnya, seperti membuat mobil-mobilan, rumah-rumahan, dan sebagainya. Dalam konteks pengajaran bahasa Arab, yang dikonstruk adalah huruf-huruf hijaiyah; c) Permainan Reseptif, sambil mendengarkan cerita-cerita/melihat-lihat buku bergambar, anak berfantasi dan menerima pesan yang membuat jiwanya sendiri menjadi aktif. Kaitannya dengan metode ini dalam cerita harus disisipkan penggalan bahasa Arab; d) Permainan Peranan, yakni anak memerankan tokoh, dan tokoh yang diperankan sedikit-sedikit menggunakan kosakata Bahasa Arab; e) Permainan Sukses, dalam permainan ini yang diutamakan adalah prestasi, seperti mengadakan kuis untuk menyebutkan benda dalam bahasa Arab.[4]

Strategi Bercakap-cakap
            Bercakap-cakap mempunyai arti, a) saling mengkomunikasikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara verbal; b) mewujudkan kemampuan reseptif dan bahasa ekspresif.
            Dengan strategi ini, anak diajak untuk tanya-jawab tentang benda-benda di sekelilingnya dengan menggunakan bahasa Arab, setelah sang Guru memberitahukan beberapa kosakata berbahasa Arab. Secara umum manfaat bercakap-cakap bagi anak adalah: a) sebagai alat pemuas kebutuhan anak; b) berfungsi mengatur, yakni untuk mengendalikan tingkah-laku orang lain; c) berfungsi sebagai hubungan antarpribadi, yakni bahasa dapat digunakan alat komunikasi dalam lingkungan sosial, termasuk dalam dunia anak-anak; d) berfungsi bagi diri sendiri, yaitu anak dapat menyatakan pandangannya, peranannya, dan sikapnya; f) berfungsi heuristic, yaitu berfungsi untu menanyakan sesuatu seperti, “katakan kepadaku mengapa begitu”; g) fungsi imajinatif, yaitu dengan bahasa anak dapat menghindarkan diri dari kenyataan atau dengan kata lain dapat berfungsi puitis; h) fungsi informatif, yaitu anak dapat mengkomunikasikan informasi baru kepada orang lain melalui bahasa; fungsi bahasa informatif ini dapat dinyatakan dalam bentuk seperti kalimat “aku punya sesuatu untuk kuceritakan”.

Strategi Demonstrasi
            Menjelaskan sesuatu secara lisan saja tidak cukup, apalagi dalam pengajaran keterampilan bahasa, tentunya lebih mudah menirukan seperti apa yang diucapkan gurunya setelah ditunjukkan bendanya yang harus dihapalkan. Dalam strategi ini guru menunjukkan, mengerjakan, dan menjelaskan nama benda atau pekerjaan yang ditunjukkan tersebut. Strategi demontrasi ini dapat memberi manfaat antara lain:

            a. Dapat dipergunakan untuk memberikan ilustrasi dalam menjelaskan informasi kepada anak. Bagi anak, melihat bagaimana suatu peristiwa berlangsung adalah lebih menarik dan merangsang perhatian serta lebih menantang daripada hanya mendengarkan penjelasan guru;
            b. Dapat membantu meningkatkan daya pikir anak dalam peningkatan kemampuan mengenai nama benda-benda dalam bahasa Arab dan mengingatnya. Pengembangan daya pikir anak dalam memperoleh pengalaman di bidang ilmu pengetahuan akan sangat berkesan dan sulit untuk dilupakan sampai dia dewasa sehingga dapat menguasai banyak kosakata bahasa Arab.

Strategi Projek
            Strategi Projek merupakan salah satu cara pemberian pengalaman belajar dengan menghadapkan anak pada persoalan sehari-hari yang harus dipecahkan secara kelompok, misalnya menyebutkan berbagai jenis pekerjaan dengan bahasa Arab, kemudian didiskusikan bersama dengan bantuan seorang pemandu dalam kelompok anak-anak itu. Metode ini berasal dari gagasan John Dewey tentang konsep learning by doing, yaitu perolehan hasil belajar dengan mengerjakan tindakan-tindakan sesuai dengan tujuannya, terutama proses penguasaan anak tentang bagaimana melakukan sesuatu pekerjaan yang terdiri atas serangkaian tingkah-laku untuk mencapai tujuan.
            Menurut hasil penelitian, terdapat hubungan yang erat antara proses memperoleh pengalaman yang sebenarnya dengan pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan bagi anak harus diintegrasikan dengan lingkungan kehidupan yang dapat memacu anak untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam pembelajaran bahasa Arab, misalnya saja pengalaman penambahan kosakata yang diperolehnya ketika bermain dan belajar dengan ibunya. Lingkungan kehidupan sebagai pribadi dan terutama lingkungan kehidupan anak dalam kelompok, banyak memberikan pengalaman bagaimana praktek berbicara bahasa Arab secara bersama-sama dengan temannya. Manfaat strategi ini bagi anak yang dalam perkembangan, terletak pada kekuatannya dalam me-motivasi anak untuk mempelajari bahasa Arab. Strategi ini sangat penting dalam membentuk pribadi anak yang sehat sehingga dapat dengan mudah menerima pelajaran bahasa Arab. Pribadi anak yang sehat adalah pribadi yang memiliki ciri-ciri seperti sikap mandiri, percaya diri, mudah menyesuaikan diri, dan dapat mengembangkan diri. Dengan metode ini diharapkan anak dapat belajar bahasa Arab secara optimal.

Strategi Bercerita
            Strategi ini merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak dengan cara membawakan cerita secara lisan. Lewat cerita itu disisipkan nama-nama pelakunya dalam bahasa Arab, misalnya kata “sekretaris” disebut “katib كاتب”, direktur disebut “mudir  مدير”, dan lain sebagainya. Akan tetapi, cerita yang dibawakan harus menarik dan mengundang perhatian anak, dan tidak terlepas dari tujuan pendidikan bagi anak. Ada beberapa macam teknik bercerita, sebagai berikut.

Membaca langsung dari buku cerita
            Teknik bercerita dengan membacakan langsung dari buku cerita ini sangat bagus bila guru menambahkan puisi/prosa yang sesuai untuk dibacakan kepada anak.

Bercerita dengan menggunakan ilustrasi gambar dari buku
            Bila cerita yang disampaikan kepada anak terlalu panjang dan terinci, maka penambahan ilustrasi gambar dari buku yang menarik perhatian anak dapat menjadikan teknik bercerita ini akan berfungsi dengan baik. Mendengarkan cerita tanpa ilustrasi gambar menuntut pemusatan perhatian yang lebih besar dibandingkan bila anak mendengarkan cerita dari buku bergambar. Penggunaan gambar dalam cerita dimaksudkan untuk memperjelas pesan-pesan yang dituturkan, juga untuk mengingatkan perhatian anak pada jalannya cerita.

Menceritakan dongeng
            Cerita dongeng merupakan bentuk kesenian yang paling kuno. Mendongeng merupakan cara meneruskan warisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dongeng dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kebajikan kepada anak. Lewat dongeng ini pula dapat diselipkan beberapa kosakata bahasa Arab.

Bercerita dengan menggunakan flanel
            Guru dapat membuat papan flanel yang berwarna netral, misalnya abu-abu. Tulisan-tulisan nama benda dalam bahasa Arab berserta gambar-gambar digunting dan dirapikan, kemudian anak-anak yang menempelkannya dengan cara menyesuaikan antara gambar dan namanya.[5]

Seni Mengajar Bahasa Arab
            Dalam buku The Grolier International Dictionary, dikatakan bahwa seni mempunyai pengertian keahlian, bakat dan keterampilan.[6] Menurut Sugarda Purba Kawatja dan H.A. Harahap dalam Ensiklopedi Pendidikan, seni adalah segala sesuatu yang membangkitkan perasaan indah dan yang diciptakan untuk perasaan seni itu sendiri.[7]
            Jadi, seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam hati orang, yang dilahirkan dengan perantaraan alat-alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh panca indera, atau dapat dilahirkan dengan perantaraan gerak. Dari beberapa pengertian seni tersebut dapat disimpulkan bahwa seni adalah ekspresi jiwa seseorang yang merupakan suatu keahlian, bakat dan keterampilan dalam suatu bidang yang dapat membangkitkan perasaan indah (senang) yang dilahirkan ke dalam bermacam-macam media yang dapat ditangkap indera. Mengajar adalah aktivitas mengatur atau mengorganisir lingkungan sebaik-baiknya dengan anak sehingga terjadi proses belajar.[8] Di dalam menciptakan perasaan indah atau senang pada murid dalam proses belajarnya, seorang guru harus pandai-pandai melakukan hubungan baik dengan murid, menarik hati, kasih-sayang dan bertanggung-jawab, serta sifat-sifat mengajar yang baik lainnya.
            Untuk menciptakan suasana yang menarik dan tidak membosankan dalam mengajar, seorang guru harus memiliki faktor-faktor seperti pengetahuan, keterampilan, dan sifat-sifat kepribadian.
            Kesemua faktor ini harus ada pada guru sehingga seorang guru merupakan kepribadian yang khusus. Faktor pengetahuan dan keterampilan berkaitan dengan ilmu yang harus dimiliki oleh seorang guru yaitu materi yang harus diajarkan dan ilmu-ilmu tentang cara mengajar yang baik. Faktor-faktor sifat kepribadian merupakan unsur seni dalam mengajar. Menurut M.I. Soelaiman dalam bukunya Menjadi Guru, seorang guru harus memiliki faktor “x” yang tidak dapat begitu saja dipelajari atau bahkan diterangkan dengan jelas. Faktor seperti ini bukan dari hasil studi atau ke-terampilan belaka, melainkan di dalamnya tersirat unsur perasaan (feeling).[9]
            Jadi, mengajar adalah gabungan dari unsur ilmu dan unsur seni. Unsur ilmu dapat dipelajari secara khusus misalnya pada perguruan-perguruan tinggi fakultas ilmu pendidikan, sementara unsur seni ada kaitannya dengan gaya pribadi (personal style) yang bisa terus berkembang melalui banyak praktik dan latihan. Bahkan, ada pendapat yang lebih ekstrim lagi, yaitu menurut Gilbert Highet dalam bukunya Seni Mendidik bahwa “teaching is an art not a science”. Mengajar akan lebih tepat jika diumpamakan dengan membuat suatu lukisan atau menggubah suatu lagu, atau diumpamakan pekerjaan sehari-hari seperti menanam bunga atau korespondensi.[10] Walaupun pendapat-pendapat di atas tampak berbeda, namun yang jelas berbagai pendapat tersebut mengakui bahwa dalam mengajar ada unsur seninya, bahkan menurut penulis unsur seni dalam mengajar lebih menonjol daripada unsur ilmu. Artinya untuk bisa mengajar dengan baik seorang guru harus mengetahui dan memiliki seni mengajar. Akhirnya, dapat kita simpulkan bahwa seni mengajar bahasa Arab adalah suatu aktivitas guru dengan pengetahuan, keterampilan, dan gaya pribadinya untuk menyiapkan murid-murid pada suatu kondisi sebaik-baiknya sehingga terjadi proses belajar bahasa Arab yang efektif dan estetis.

Kesimpulan
            1. Mengingat betapa pentingnya belajar bahasa Arab dan usia anak-anak adalah usia yang paling potensial untuk mempelajari bahasa asing, maka perlu ditangani dengan serius bagaimana metode, strategi dan seni mengajar yang paling tepat dalam penyampaiannya. Sedikit pemaparan di atas, mudah- mudahan bisa dijadikan sedikit rujukan bagi para pengajar bahasa Arab. Dari semua metode di atas dapat dipilih salah satu, atau mungkin perlu menggabungkan secara keseluruhan agar anak tidak merasa bosan hanya dengan satu macam metode saja. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan sebab apabila sejak usia dini sudah diusahakan, bukan mustahil di saat dewasa anak-anak akan mahir berbahasa Arab.
            2. Seni mengajar bahasa Arab merupakan suatu aktivitas guru yang harus dilakukan dengan pengetahuan, keterampilan dan gaya pribadinya untuk menyiapkan murid-murid pada suatu kondisi sebaik-baiknya sehingga terjadi proses belajar bahasa Arab yang efektif dan estetis.
            Karena mengingat pada saat ini kebanyakan lembaga yang baru mempraktekkan metode- metode diatas adalah pondok pesantren yang berbasis bahasa arab, dan hanya sebagian kecil lembaga Madrosah Tsanawiyah (Mts), Madrosah ‘Aliyah (MA) yang menerapkan dengan baik unsur- unsur yang telah disebut tadi. Maka kita mulai dari lingkup kecil yaitu kluarga.
سكرا على ملاحظته.............

Daftar Pustaka
Ø  Arsyad, Azhar. 1999. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ø  Diwandono, Sri Esti Wuryani. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Ø  Dzulkifli L,. 2002. Psikologi Perkembangan Remaja. Bandung: Rosda Karya, 2002.
Ø  Gilbert, Highet. 1955. Seni Mendidik. Jakarta: Pustaka Sarjana.
Ø  Moeslichatoen R. 1999. Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak. Jakarta: Rineka Cipta.
Ø  Nasution, S. TT. Didaktif Azas-azas Mengajar. Bandung: Jemmars.
Ø  Soelaiman, M.I. 1985. Menjadi Guru (Suatu Pengantar Kepada Dunia Guru). Bandung: CV. Diponegoro.
Ø  Sugarda, Purba Kawatja dan H.A. Harahap. 1988. Ensiklopedi Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung.


[1] . Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hal. 19.
[2] . Sri Esti Wuryani Diwandono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Grasindo, 2002), hal. 74.
[3] . Moeslichatoen R., Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hal. 33
[4] . Dzulkifli L., Psikologi Perkembangan Remaja (Bandung: Rosda Karya, 2002), hal. 2.

[5] Ibid., hal. 91.
[6] . The Grolier International Dictionary (Massachussets: Inforonics Inc., 1987), hal. 74.
[7] . Sugarda Purba Kawatja dan H.A. Harahap, Ensiklopedi Pendidikan (Jakarta: Grasindo, 1982), hal. 326
[8] . Nasution, S., Didaktif Azas-azas Mengajar (Bandung: Jemmars, TT), hal. 7.
[9] . Soelaiman, M.I, Menjadi Guru (Suatu Pengantar Kepada Dunia Guru) (Bandung: CV. Diponegoro, 1985), hal. 34.
[10] . Gilbert Highet, Seni Mendidik (Jakarta: Pustaka Sarjana, 1955), hal. 188.

Labels