Fragmen Waktu: Catatan Kecilku

Teori, Kopi, dan Sebuah Pampers yang Jujur




Siang itu—eh, ralat—malam itu, saya dan istri memutuskan "nongkrong produktif "ala mahasiswa tua. Targetnya mulia --menyelesaikan disertasi. Lokasinya strategis dan penuh harapan --Kopi Kenangan, New Delhi. kurang lebih sudah 5 jam kami di sini, hingga waktu sudah mepet tengah malam, waktu di mana mahasiswa doktoral biasanya berada di persimpangan hidup, layar laptop penuh tabel dan catatan kaki, sementara otak saya tinggal 12%  daya baterainya. Tapi hati masih ingin tetap bertahan ditemani suasana tenang, barista mulai kelihatan mengantuk, gelas kopi yang tingal setengah isinya, Wi-Fi kencang, dan mimpi lulus tepat waktu (amin). 

Layar laptop masih bersinar dengan penuh keyakinan, istri duduk di seberang sambil membaca dan sesekali memberi komentar yang lebih tajam daripada reviewer jurnal internasional. Kopi di meja mulai dingin, tapi semangat pura-pura produktif masih hangat. Suasana kafe tenang, pengunjung tinggal sedikit, dan saya sempat berpikir, “Wah, ini tempat ideal untuk melahirkan teori besar.” Bahkan saya berhasil menulis satu paragraf utuh tanpa menghapus—sebuah pencapaian langka.

Lalu… lewat pukul 00.00 malam, suasana berubah drastis.

Pintu kafe terbuka lebar, disusul rombongan orang India masuk dengan penuh energi. Suara ramai, lagu “Happy Birthday” versi Bollywood dinyanyikan dan yang langsung memecah keheningan akademik kami.  Yang bikin kaget bukan cuma orang dewasanya, tapi banyak anak-anak kecil ikut serta. Anak-anak, tengah malam. Saya refleks melirik jam, memastikan ini bukan lewat jam 12 siang. Bukan. Ini betul-betul lewat tengah malam.

Saya menoleh ke istri. Istri menoleh ke saya. Kami tidak bicara, tapi pikiran kami sinkron: “loh, ini anak- anak kecil lagi dilatih shift malam apa?” Tapi kami mencoba berpikiran positif. Mungkin ulang tahun spesial. Mungkin juga di sini hanya sebentar. Saya pun kembali ke layar laptop, mencoba fokus sambil mengabaikan suara bocil yang berlarian disekitar saya, seperti partikel bebas tanpa variabel kontrol.

Beberapa menit tlah berlalu. Lalu datanglah sesuatu yang tidak tertulis dalam silabus kehidupan.

Awalnya samar. Seperti aroma misterius yang bikin ragu: ini perasaan saya atau memang ada yang salah? Beberapa detik kemudian, aroma itu makin jelas, makin nyata, dan makin… jujur. Saya langsung sadar, ini bukan bau kopi, bukan bau kue, dan jelas bukan bau inspirasi akademik. Ini bau pampers bocil yang baru saja mengalami tragedi internal.

Ternyata salah satu anak kecil di rombongan ulang tahun itu mengalami insiden diplomatik di popoknya. Dan popok tersebut, entah bentuk artefak-nya seperti apa, atau kualitasnya bagaimana, memutuskan untuk tidak menjaga rahasia. Aroma itu menyebar pelan tapi pasti, seperti teori yang awalnya ditolak tapi akhirnya diterima semua orang.

Suasana kafe mendadak aneh. Semua pengunjung melakukan ritual universal: pura-pura tidak mencium apa-apa. Ada yang meneguk kopi lebih cepat, ada yang menutup hidung dengan gaya elegan, ada juga yang mendadak merasa perlu ke luar sebentar “mengangkat telepon”. Barista saling pandang dengan ekspresi bingung antara profesional dan pasrah.

Saya menatap layar laptop. Huruf-huruf disertasi tampak mengejek. Otak saya resmi menyerah. Istri saya berbisik pelan, “Ini ujian kesabaran level akhir.” Saya mengangguk. Dalam benak saya, seakan ada bisikan yang menyuarakan:“Inilah metodologi kualitatif paling nyata: pengalaman lapangan.”

Orang dewasa pada rombongan itu memilih untuk diam, dan pelan- pelan segera mengakhiri aktifitasnya.  Akhirnya, satu persatu mereka keluar, namun aroma yang khas masih meninggalkan jejaknya yang kuat untuk semua orang yang ada di situ. 

Malam itu, mengerjakan tulisan desertasi hingga lewat tengah malam memang berat, tapi bau artefak pada popok lewat jam nol nol itu lebih menguji ketahanan mental. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.